Wartawan : timin,ghafur,budi, prana,romi,anca ,jul,topan dan hamsa.
MOROPOTNEWS.COM.(20/5).Sebuah tempat di mana kata “pendatang” kehilangan maknanya dan frasa “tuan tanah” tak lagi berlaku. Tempat itu nyata, membentang di bawah langit Sulawesi Utara: Bolaang Mongondow, atau yang karib disebut Tanah Totabuan. Di sini, harmoni bukan sekadar slogan, melainkan menjadi nafas sehari-hari yang digerakkan oleh satu roh filosofi mendalam yang disebut Mo’oaheran.

Secara harfiah, Mo’oaheran berarti saling menghormati dan menghargai. Namun dalam praktiknya, ia adalah sebuah ikatan batin yang melampaui sekat-sekat suku, ras, etnis, hingga keyakinan. Manifestasi nyata dari filosofi ini terlihat jelas pada praktik sosialnya, di mana masjid, gereja, dan pura berdiri berdampingan secara harmonis tanpa jarak yang memisahkan.
Kedekatan fisik tempat-tempat ibadah ini menjadi simbol visual betapa dekatnya hati para pemeluknya. Di Tanah Totabuan, kebebasan beragama bukan lagi sekadar teks hukum yang dijamin oleh undang-undang negara, melainkan sebuah denyut nadi yang dijaga ketat oleh hukum adat dan dirawat dengan penuh kasih oleh tradisi turun-menurun oleh masyarakat yang mendiaminya.
Uniknya, keteguhan dalam merawat tradisi lokal ini tidak lantas membuat masyarakatnya eksklusif atau menutup diri. Kehadiran beragam organisasi adat, sosial, dan kemasyarakatan di Bolaang Mongondow justru menjadi bukti betapa kayanya ruang dinamika sosial di Tanah Totabuan. Salah satu pilar utamanya adalah Laskar Bogani Indonesia (LBI), sebuah organisasi kemasyarakatan adat yang bergerak sebagai pelindung identitas lokal.
LBI didirikan dengan misi mulia untuk menjaga kelestarian tanah adat, melestarikan budaya, serta merawat sejarah kebesaran Kerajaan Bolaang Mongondow. Melalui aksi nyata LBI terus mengedukasi generasi muda mengenai sejarah kejayaan masa lalu beserta nilai-nilai kepemimpinan para Bogani yang kuat dan bijaksana.
Menariknya, kepedulian yang mendalam terhadap warisan leluhur ini sama sekali tidak memicu sentimen kesukuan yang sempit. LBI justru menjalankan amanat tersebut dengan memegang teguh semboyan “di mana kaki dipijak, di situ langit dijunjung”. Nilai ini melebur sempurna dengan fungsi organisasi sebagai wadah silaturahmi untuk menjaga keharmonisan antar masyarakat di Bolaang Mongondow Raya.
Di sinilah letak keajaibannya; ormas adat seperti LBI dan berbagai organisasi sosial lainnya mampu berdiri tegak membela marwah budaya lokal, namun di saat yang sama tetap hidup guyub, saling merangkul, dan menempatkan persatuan serta kesatuan sebagai sebuah bangsa di atas segalanya.
Keberadaan LBI sekali lagi untuk memperkuat fondasi sosial, bukan meretakkannya. Salah satu keindahan paling magis dari Bolaang Mongondow adalah kerelaannya untuk memeluk siapa saja. Di tanah ini, tidak ada kasta, tidak kata “Tuan Tanah” yang merasa lebih tinggi atau lebih berhak ketimbang yang lain.
Formula sosialnya begitu indah: siapa pun yang lahir dan besar di sini, atau mereka yang sekadar datang, tinggal, dan menetap, semuanya melebur menjadi satu. Rasa memiliki inilah yang tumbuh subur, sehingga setiap orang yang memilih hidup di Bolaang Mongondow secara otomatis merasa punya tanggung jawab moral untuk menjaga dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Dengan seluruh jalinan keberagaman yang begitu rapi, damai, dan menyatu, Bolaang Mongondow telah mengukuhkan dirinya sebagai “miniatur” Indonesia yang sebenarnya.
Di tengah dunia yang sering kali bergejolak karena ego kelompok, “mpunya tanah” justru Tanah Totabuan hadir sebagai oase yang membuktikan bahwa perbedaan bukanlah pemisah. Menjaga akar budaya; mencintai tanah leluhur dan mencintai persatuan nasional adalah dua hal yang bisa mewujud dalam satu tarikan napas yang harmonis, yaitu: “Mo’oaheran.”.
Oleh : Moh. Fajri Buhohang
*Penulis merupakan Ketua Laskar Bogani Indonesia Wilayah Bolaang Mongondow.
MoropotNews | idealisme – independen – berkarakter Media Online Bolaang Mongondow Raya