Wartawan :timin,ghafur,budi, romi, anca,prana,jul dan topan.
MOROPOTNEWS.COM.(17/5). Mari kita regangkan dulu urat yang tegang itu. Kasih slow sedikit itu otak yang terlalu sering dipaksa kerja rodi oleh debat kusir media sosial. Jangan isi kepala terlalu banyak strom, nanti korslet sebelum sempat paham. Sebab kadang manusia modern ini lucu: baru baca dua paragraf sudah merasa jadi filsuf, baru dengar satu nama sejarah langsung berlagak hakim peradaban.
Maka mari mulai dari hal paling sederhana. Hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari sampai-sampai sering dianggap remeh.
Begini; pernahkah Anda menjadi orang baru di sebuah lorong, gang, atau kompleks pemukiman tingkat RT? Kalau pernah, Anda pasti tahu bahwa sebelum resmi jadi penghuni, biasanya kita lebih dulu menjalankan ritual purba umat manusia: tanya-tanya. Tanya siapa yang baik. Siapa yang tukang bikin ribut. Siapa yang kalau mabuk suka malak orang atau yang punya tabiat bakuku dan melempar kursi plastik. Siapa yang harus dijauhi. Dan tentu saja: siapa “orang besar” di tempat itu.
Sebab manusia, dari zaman batu sampai zaman wifi, punya naluri yang sama: mencari titik aman. Biasanya akan ada nasihat yang terdengar sederhana tapi sesungguhnya sangat politis: “Kalau ngana pindah tugas di kampung itu, noh, ngana pi bakudapa deng A. Pengaruh dia kuat di lorong itu. Aman ngana kalau so baku kanal deng dia.”
Atau versi lain: “Ngana rangkul lebe dulu pa B supaya aman. Satu lorong itu dengar pa dia.”
Lihat betapa menariknya manusia bekerja. Bahkan di tingkat lorong dan kompleks kecil, kita sudah mengenal diplomasi. Sudah mengenal lobi. Sudah mengenal kekuasaan informal. Sudah tahu bahwa untuk hidup tenang, kadang kita harus tahu siapa pusat strom atau gravitasi sosial di tempat itu.
Uniknya, semua orang paham permainan ini tanpa perlu kuliah ilmu politik. Karena pada dasarnya manusia selalu mencari “pintu utama” untuk masuk ke suatu lingkungan.
Nah, sekarang tarik napas sedikit. Sebab pola yang sama terjadi juga dalam sejarah besar manusia. Apa yang kita lakukan saat pindah ke lorong baru itu, sesungguhnya cuma versi mini dari cara kolonialisme bekerja.
Ketika bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara, mereka bukan rombongan idiot yang turun dari kapal sambil bingung membedakan mana pemimpin dan mana tukang pukul. Mana yang di atas kapal dan mana yang turun menyelam menahan nafas memanah ikan. Mereka, kolonial Eropa datang membawa agenda, membawa kepentingan, membawa peta kekuasaan, dan tentu saja membawa naluri politik yang sangat sadar tentang siapa yang harus lebih dulu ditemui dan dirangkul.
Karena itu, ketika mereka tiba di utara Sulawesi, yang pertama mereka dekati bukan rakyat yang sedang cari ikan di pantai, petani yang sibuk di kebun, atau pemburu yang memanah rusa di hutan. Mereka langsung menuju pusat otoritas: Datu, Punu, Kolano, Sultan, Raja—kelas bangsawan yang menjadi poros legitimasi sosial dan politik di wilayahnya.
Bukan berarti rakyat dianggap tidak penting. Tetapi dalam logika kekuasaan, merangkul satu pusat lebih efisien daripada berdebat dengan seribu kepala. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.
Dan orang-orang Eropa tahu betul cara memainkan jurus itu. Itulah sebabnya kita tak heran ketika pada tahun 1538, Antonio Galvão bersama para penginjil yang ikut di atas kapal langsung menyebarkan iman Kristen kepada tokoh kunci di utara Sulawesi: Raja Manado.
Hampir tiga dekade kemudian, tepatnya tahun 1563, Pater Diogo de Magelhaes tiba di Manado dan langsung bertemu Raja Manado bersama Raja Siau (Posumah) yang kebetulan sedang berada di sana. Hasilnya? Sekitar 1.500 penduduk ikut hadir dan dibaptis bersama-sama dengan raja mereka.
Sekali lagi: sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Karena sejak dulu, massa sering mengikuti arah angin kekuasaan. Dan pola itu terus berulang ketika VOC mulai memainkan kukunya di utara Sulawesi.
Gubernur-gubernur VOC di Maluku datang silih berganti ke Manado. Dan menariknya, yang mereka temui selalu tokoh kunci yang sama: Loloda Mokoagow.
Simon Cos misalnya. Ketika datang ke pesisir dekat benteng Spanyol—bahkan sebelum VOC membangun Benteng Nieuw Amsterdam—yang ia temui adalah Loloda Mokoagow. Pejabat VOC berikutnya, Anthonij van Voorst, juga melakukan hal serupa. Ia tidak naik ke pedalaman mencari Uyo’ di Tudu Aog negeri Mongondow. Yang ia temui tetap Loloda Mokoagow.
Ketika jabatan gubernur berganti kepada Maximilian de Jong, polanya masih sama. Yang ditemui juga Loloda Mokoagow. Bukan Lengkebong yang mungkin sedang menunggu hasil buruan dari Lonua’ di pedalaman Mongondow.
Lihat bagaimana kekuasaan bekerja? Kolonial tidak bergerak sembarang. Mereka mencari simpul. Mereka mencari pusat pengaruh. Mereka mencari figur yang jika disentuh, maka efeknya menjalar ke seluruh tubuh sosial.
Dan puncak dramanya tampak ketika Kerajaan Goa Tallo di bawah Sultan Hasanuddin dikalahkan oleh trio maut: VOC, Ternate, dan Bone.
Setelah kemenangan itu, militer VOC bersama Sultan Ternate, Mandarsaha, berlayar ke Manado membawa kabar kemenangan sekaligus tuntutan politik. Dan lagi-lagi, tokoh yang mereka temui adalah Loloda Mokoagow. Bukan sesiapa-siapa. Dan ini fakta sejarah. Mereka menuntut Loloda Mokoagow selaku Raja Manado agar segera menyerahkan Manado secara resmi kepada Ternate.
Namun instruksi itu tidak dilaksanakan Loloda Mokoagow. Di sini sejarah menjadi menarik. Sebab di balik dokumen dan stempel kerajaan, ternyata selalu ada ruang negosiasi, tarik-ulur, bahkan pembangkangan diam-diam meski sebelumnya sudah kepergok pro pada Makassar.
Lalu ketika pemerintahan Gubernur VOC berganti dijabat Robertus Padtbrugge, siapa lagi yang ditemui? Jawabannya masih Loloda Mokoagow. Bukan Koyokat yang sedang bermain ombak di pesisir Lolak. Bukan rakyat biasa yang sedang membelah kayu bakar. Tetap pusat kuasa yang dicari. Bahkan ketika Robertus Padtbrugge bersama Sultan Ternate, Sibori Amsterdam, mengonsolidasikan pasukan untuk memukul Spanyol di Ulu Siau, yang mereka temui masih Loloda Mokoagow. Dan dari situ, Pangeran Mokodompit di Ayong (saudara kandung Loloda Mokoagow) turut digandeng membawa pasukan.
Sesudah perang besar itu selesai—perang yang tidak seimbang dan dimenangkan Sultan Sibori bersama aliansi kerajaan-kerajaan Maluku dan utara Sulawesi—Spanyol akhirnya mengangkat bendera putih. Dan nama Loloda Mokoagow kembali muncul di atas lembaran sejarah, lengkap dengan tanda sebagai Raja Manado.
Semua itu bukan dongeng warung kopi. Dokumen-dokumen itu masih tersimpan rapi dalam arsip resmi VOC, termasuk jurnal harian Robertus Padtbrugge di Leiden dan ANRI Jakarta, bahkan memori kolektif yang masih terpelihara hingga kini.
Maka dari sini kita belajar sesuatu yang agak getir tapi nyata:
Sejarah manusia sering kali bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang dianggap paling strategis untuk dirangkul.
Dan ironinya, pola itu tidak pernah benar-benar mati. Hari ini bentuknya mungkin bukan lagi kolonialisme kapal layar. Tetapi cara berpikirnya masih hidup di kantor-kantor, partai-partai, organisasi, bahkan grup WhatsApp keluarga atau alumni: cari tokoh kunci, dekati pusat pengaruh, amankan posisi, lalu biarkan massa bergerak mengikuti gravitasi kuasa.
Begitulah manusia. Dari lorong sempit tingkat RT sampai kerajaan besar di tanah Sulawesi, pola pikirnya ternyata sama saja: siapa menguasai pintu utama, ia lebih mudah mengatur isi rumah. Dan bukan berarti tak ada plot twist yang terjadi. Ini pulalah yang dialami Loloda Mokoagow, ketika utara Sulawesi dibelah oleh Robertus Padtbrugge; sebelah sini untukku, sebelah sana untukmu. Peta dibuat, wilayah dibelah-belah, dicerai-berai untuk saling curiga.
Penulis adalah penulis :
Uwin Owen Mokodongan

Dari Passi kabupaten Bolaang Mongondow ,17 mei 2026
MoropotNews | idealisme – independen – berkarakter Media Online Bolaang Mongondow Raya