MANGKUBI in Mongondow.###

Wartawan : Timin,budi,irawan

MOROPOTNEWS.COM.(26/4).Ada batas yg telah disepakati antara manusia dengan mahluk yang dalam bahasa Mongondow disebut Mangkubi’. Batas ini adalah pemisah antara tempat hidup manusia dan Mangkubi.

Hutan adalah wilayah Mangkubi’ dan Lipu’ atau kampung adalah wilayah manusia. Batas ini berada di antara hutan dan kawasan budidaya manusia, dekat pemukiman. Jika manusia masuk wilayah Mangkubi maka manusia harus minta permisi dan bersikap hormat. Ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar.

Diriwayatkan bahwa kesepakatan antara manusia dan Mangkubi ini diikat dalam sebuah janji yang sakral. Kedua belah pihak tidak boleh saling menganggu meski tdk boleh saling melupakan serta harus saling menghormati wilayah masing-masing. Manusia menghormati wilayah bersemayamnya Mangkubi demikian sebaliknya.

Mangkubi’ sudah lebih dulu ada sebelum manusia. Ia digambarkan sebagai mahluk berbulu dan menyeramkan. Dipresentasikan juga memiliki kekuatan maha dahsyat yg merusak dan dapat mendatangkan kesukaran-kesukaran. Hal-hal buruk, gelap, jahat, angkara murka, merujuk pada sosok Mangkubi’.

Mangkubi’ bisa muncul atau bisa diminta kekuatannya ketika dipanggil oleh manusia dengan cara tertentu. Namun hal ini terlarang untuk diajarkan atau dipraktekan secara umum. Mangkubi’ hanya bisa dipanggil secara khusus oleh tetua kampung, dukun, pemimpin spiritual (bolian), dan hanya untuk kepentingan ritual/upacara bersama. Sebagai bentuk penghormatan baginya agar tidak meninbulkan kesukaran – kesukaran nanti terjadi dalam masyarakat. Bukan dimintai suatu kekuatan untuk hal-hal jahat. Sebab jika ketahuan ada manusia atau warga kampung yang memanggil Mangkubi’ untuk hal-hal jahat, maka orang itu yang akan menanggung akibatnya karena akan menjadi musuh bersama.

Ketika sebuah entitas dimana manusia hidup, masyarakatnya mulai lupa akan kesyukuran, berbuat kejahatan, tidak hujur, pamali dilanggar, aturan adat tak dilaksanakan, dan menganggu wilayah Mangkubi, maka terjadilah apa yang dalam istilah lokal disebut motomba’, yakni fenomena yang terjadi akibat ada pelanggaran yang dilakukan. Fenomena itu diantaranya; hewan ternak mati, tanaman rusak/gagal panen, penyakit bermunculan, kesukaran-kesukaran terjadi, dsb.
Maka dilaksanakanlah ritual adat Monibi. Upacara ini diinisiasi para tetua kampung termasuk Bolian dengan melibatkan masyarakat secara masal.

Monibi juga bermakna sebagai upacara sedekah bumi, baik antar sesama dan persembahan kepada sang pencipta berupa pengurbanan-pengurbanan. Sebutan lain terhadap upacara ini adalah “Mongundam Kon Lipu” atau upacara mengobati kampung. Ini bermakna segala keburukan yang terjadi oleh masyarakat dalam sebuah kampung, dihapuskan lewat upacara ini.

Dalam Monibi, Mangkubi’ dipanggil oleh Bolian untuk hadir dalam upacara. Ia diberi tempat khusus. Ada kuil berupa perancah dari bambu kuning yang dihiasai aneka rupa untuk tempat Mangkubi bersemayam. Inilah yang disebut Sigi. Sedangkan kuil yang satunya lagi dengan bentuk yang sama, dibuat untuk tempat datangnya arwah nenek moyang, termasuk arwah para datu atau raja dan ratu. Inilah yg disebut dengan Sibi. Istilah lain disebut Karawan.

Orang Mongondow sangat menghormati hutan yang diyakini tempat bersemayamnya Mangkubi’ dan segala arwah yang menempati wilayah itu. Memanfaatkan sumberdaya hutan/alam harus dilakukan lewat upacara-upacara baik skala kecil maupun besar. Begitu sakral dan hormat. Jika tidak demikian maka akan lahir kesukaran – kesukaran yang akan ditanggung sendiri oleh manusia.

Tapi itu dulu. Sebuah kepercayaan dan tradisi kuno yang kelak di era modern menjadi bahan olok – olok, dan apa yang kemudian distempeli dengan; sesat.

Jaman telah berubah. Kepercayaan juga mengalami perubahan-perubahan. Maka tak ada Mangkubi’. Tak ada arwah nenek moyang. Tak ada lukad ing kayuon, tak ada lukad in lipu’. Yang ada adalah roda dan gigi mesin meraung di wilayah Mangkubi dan tempat bersemayamnya roh-roh. Segala takit dan segala pamali.

Punya siapa itu roda dan gigi mesin itu? Untuk mengambil apa? Hasilnya untuk siapa? Dibawa kemana? Siapa yang untung siapa yang buntung? Lalu bencana datang. Orang – orang terkubur. Orang – orang kehilangan rumah. Anak istri menangis. Orang – orang hanyut. Arukus tanda kabung tertancap di kampung. Tapi semua itu bukan untuk mereka melainkan untuk kita disini; orang-orang modern cum relijius yang tak mampu menjaga janji sakral.(tim)

Penulis :
Uwin Owen Mokodongan
Monibi Institute BMR.

Komentar Facebook
Bagikan

Berita Lainnya

RIBUAN ANGGOTA LASKAR BOGANI INDONESIA, MANGUNI INDONESIA, BERSAMA ORMAS BARISAN FI SABILLAH MEMBANTU PERKUAT KEAMANAN TABLIQ AKBAR UST ABDUL SOMAD DI BMR ###.

Wartawan :timin,ghafur,budi, prana,anca,jul, topan dan hamsa . MOROPOTNEWS.COM.(22/05). Tibanya Ustadz Abdul Somad di kota Kotamobagu …