Wartawan :Timin,budi,iwan
MOROPOTNEWS.COM.(25/3).Dari ungkapan diatas nampaknya, kita dapat menangkap kesan yang sama seperti hari2 ketika masyarakat madinah menghadapi embargo dan kepungan karena strategi bertahan yang digunakan madinah dengan pembuatan parit dalam perang bela negara saat berhadapan dengan Konfederasi bangsa Quraisy dari berbagai wilayah & pengkhianatan dalam negeri pada tahun 627 M. Strategi ini adalah hasil dari studi tiru yang disetujui oleh Rasulullah SAW dari strategi perang Kerajaan Persia atas saran Sahabat Salman Al Farisi yg merupakan keturunan dari warga persia. Perang yang terjadi di bulan syawal itu, dalam kurang lebih 27 hari menyimpan banyak catatan penting yg nampaknya akan tetap relevan sepanjang masa, dimana pada saat2 terakhir kedua belah pihak alami kesulitan setelah 27 hari dalam tekanan, masyarakat madinah dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggang agar sumberdaya dikelola secara efektif dan memperkuat ibadah serta membangun solidaritas dalam memupuk militansi internal maka siapa yg berlebih dianjurkan bersedekah. Wal hasil Madinah berhasil mempertahankan kemerdekaannya, sementara bangsa quraisy dan sekutunya terpaksa pulang dengan kekalahan meski dengan kekuatan 10.000 pasukan terlatih (jumlah yg besar kala itu) jumlah yg tak sebanding dengan warga madinah dibalik parit, bahkan menjadi perang dengan sedikit korban jiwa di kedua belah pihak akibat perang.

Peristiwa itu rupanya viral dan meningkatkan pengaruh Madinah pada bangsa2 sekitarnya untuk bergabung di bawah panji Madinah dengan sang Rasul SAW sebagai Pemimpinnya, sehingga kelak di musim haji bangsa quraisy ditaklukkan tanpa perang dan tanpa korban jiwa namun dengan sukarela.
Potret yang sama berulang setiap tahun pada hari – hari terakhir dibulan Ramadhan, Rasulullah SAW sebagai teladan dan contoh hidup kaum muslimin senantiasa kencangkan ikat pinggangnya, membangunkan seluruh anggota keluarga dan memperbanyak sedekah.
Memperbanyak bacaan quran dan menggeser waktu tarawih ke ⅓ malam terakhir juga memperpanjang bacaannya.
Sepenggal potret sejarah itu, agak kontras dengan fenomena kaum muslimin saat ini, boleh jadi sense of ramadhannya agak berbeda dijalani karena tidak merasakan atau kurang mendapatkan informasi pada fenomena generasi awal, sehingga lebih adaptif dengan fenomena ekonomi dan budaya seiring meluasnya penganut ajaran islam.
Lalu Bagaimana Ramadhan berdasarkan Al Qur’an sebagai landasan beragama kaum muslimin ?
Sebagai penutup saya coba uraikan singkat dengan poin2 pentingnya sebagai berikut :
*Pertama Secara Pribadi.*
Berpuasa di bulan Ramadhan bertujuan untuk membentuk pribadi taqwa (Q.S. Albaqarah : 183), dimana secara umum taqwa dapat diartikan sebagai kemampuan seorang muslim untuk berhati2 dalam hidupnya seperti berjalan diantara duri (Definisi taqwa berdasarkan percakapan 2 sahabat mulia umar bin khattab ra. dan ubay bin ka’ab ra.), dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidupnya dan laku hidup rasulullah saw sebagai teladannya.
*Kedua Secara Sosial*
Merasakan lapar, meski memiliki kemampuan membeli rasa kenyang, menjadikan seseorang memiliki kepekaan sosial atas orang disekitarnya. Ini penting dalam mewujudkan keseimbangan sosial atas kesenjangan yg terjadi dalam pergaulan warga bangsa dalam bernegara maupun warga negara dalam pergaulan dunia antara yg dicukupkan dan yg dilebihkan rezekinya.
*Ketiga Peran Kekuasaan*
Adanya kesenjangan sosial merupakan keniscayaan kehidupan manusia, karena hakikatnya setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya dan keluarganya, maka keinginan untuk mengutamakan diri dan keluarga merupakan keniscayaan yg boleh jadi menimbulkan kerugian bagi orang lain. Kehadiran kekuasaan mendistrak itu melalui fungsi zakat, infaq, sedekah dan pajak, boleh2 saja disalurkan langsung, namun dikumpulkan melalui lembaga yg kredibel lalu dibagikan secara proporsional tentu dapat menjangkau lebih banyak dan bermanfaat lebih luas. Tradisi distribusi peran kuasa ini telah dikenal luas dalam pergaulan kaum muslimin saat menjadi mayoritas dan berkuasa kala itu dan insya Allah saat ini.
Begitulah kira2 kesan yg didapat dalam menangkap pesan Ramadhan di 10 hari terakhir.
Bayarlah zakat dan bila berlebih berilah infak atau sedekah agar hari raya bisa membuat lebih banyak orang berbuka dengan senyum terbuka dan jangan berlebihan agar tak ada yang terluka.(tim).
Penulis pemerhari BMR :
‘Mohammad Julianto’
MoropotNews | idealisme – independen – berkarakter Media Online Bolaang Mongondow Raya