Setelah ABO’ Jecky Manoppo oleh Laskar Bogani Indonesia Dinobatkan sebagai DATOE in Bolaang Mongondow, Pekerjaan Kebudayaan di Eks Swapraja Kerajaan Bolaang Mongondow ini baru dimulai###

Penulis :Patra Mokoginta

MOROPOTNEWS.COM.(11/8).Pengesahan Abo’ Jecky Manoppo sebagai Datu Bolaang Mongondow oleh Laskar Bogani Indonesia telah berlangsung. Peristiwa itu tentu penting, tetapi gelar dan upacara bukanlah garis akhir. Justru setelah gelar disematkan, pekerjaan kebudayaan yang lebih berat baru dimulai.

Pertanyaan yang perlu diajukan sekarang bukan lagi sekadar siapa yang berhak menyandang gelar Datu. Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah: apa yang akan dikerjakan seorang Datu untuk masyarakat Bolaang Mongondow?

Kerajaan Bolaang Mongondow sudah lama tidak menjalankan pemerintahan politik. Wilayahnya kini berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan terbagi menjadi beberapa daerah otonom. Karena itu, Datu pada masa sekarang tidak mungkin ditempatkan sebagai penguasa wilayah sebagaimana raja pada masa lalu.

Datu hari ini memerlukan bentuk pengabdian yang baru. Kewibawaannya tidak bersumber dari kekuasaan pemerintahan, melainkan dari kepercayaan keluarga, penerimaan masyarakat, pengetahuan mengenai adat, serta manfaat yang dapat diberikan bagi pemajuan kebudayaan.

*Garis Keturunan Tetap Penting*

Dalam sejarah Bolaang Mongondow, seorang raja harus berasal dari keturunan Mokodoludut. Jabatan tersebut tidak terbuka bagi orang di luar garis keturunan itu.

Dari Mokodoludut, garis raja-raja berlanjut melalui Jajubangkai, Damopolii, Busisi atau Butiti, Makalalo, Mokodompit, Mokoagow, Tadohe, hingga Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang. Dalam tradisi Bolaang Mongondow, para raja dari masa Mokodoludut hingga Datu Binangkang diangkat oleh para Bogani.

Artinya, terdapat dua unsur yang berjalan bersama. Garis keturunan menentukan siapa yang berhak dipertimbangkan, sedangkan para Bogani menentukan siapa di antara keturunan tersebut yang pantas diangkat menjadi pemimpin.

Para Bogani pada masa itu bukan sekadar prajurit. Mereka merupakan pemimpin kelompok masyarakat yang mempunyai wilayah dan pengikut. Persetujuan para Bogani menjadi sumber penerimaan adat bagi seorang Punu atau Datu.

N.P. Wilken dan J.A. Schwarz mencatat versi lain mengenai Loloda Mokoagow. Menurut cerita yang mereka himpun pada 1866, Datu Binangkang dipilih oleh penduduk Bolaang Mongondow dan Minahasa. Pada bagian lain disebutkan pula bahwa ia dipilih oleh para kepala atau pemimpin di Minahasa.

 

Keterangan tersebut khusus berhubungan dengan masa Loloda Mokoagow, ketika kekuasaan dan pengaruhnya menjangkau Bolaang, Mongondow, Manado, dan sebagian wilayah Minahasa. Catatan itu tidak dapat diartikan bahwa kepala-kepala Minahasa mempunyai hak tetap untuk mengangkat seluruh Raja Bolaang Mongondow.

Setelah kerajaan mempunyai tata pemerintahan yang lebih teratur, sumber-sumber kolonial mulai menyebut para pembesar kerajaan atau *rijksgrooten*. Di dalamnya terdapat Jogugu, Presiden Raja, Kapitan Laut, Panghulu, mantri atau bobato, dan sejumlah pejabat lainnya. Mereka ikut menjalankan pemerintahan dan terlibat dalam pemilihan raja dari lingkungan keluarga kerajaan.

Sistem sejarah tersebut penting dipahami. Namun, susunan lama itu tidak lagi berdiri secara utuh pada masa sekarang. Para Bogani dalam bentuk awal, pembesar kerajaan, dan pemerintahan kerajaan sudah tidak menjalankan fungsi politik seperti dahulu. Karena itu, pengangkatan Datu pada masa kini tidak mungkin menyalin mekanisme lama secara persis.

*Dari Mandat Keluarga Menuju Ruang Nasional*

Kedudukan Abo’ Jecky tidak bermula dari pengesahan Laskar Bogani Indonesia. Dasar awalnya tumbuh di lingkungan internal keluarga keturunan Raja Manoppo.

Berdasarkan silsilah dan keterangan keluarga, Abo’ Jecky berada dalam garis keturunan Raja Riedel Manuel Manoppo. Keluarga kemudian memberikan kepercayaan kepadanya untuk mewakili keturunan Raja-Raja Manoppo dalam pergaulan adat Nusantara.

Mandat itu diperlihatkan kepada ruang publik ketika Abo’ Jecky menghadiri Festival Adat Budaya Nusantara II di kawasan Candi Borobudur pada Desember 2022. Kegiatan yang diselenggarakan Masyarakat Adat Nusantara atau MATRA tersebut diikuti raja, sultan, datu, serta utusan kerajaan dan lembaga adat dari berbagai daerah.

MATRA bukan pihak yang mengangkat Abo’ Jecky sebagai Datu. Forum tersebut menjadi tempat ia menjalankan mandat keluarga di lingkungan adat tingkat nasional.

Dalam kegiatan itu, Abo’ Jecky hadir mengenakan busana adat kuning keemasan. Ia duduk bersama para utusan kerajaan dan terdokumentasi bersama sejumlah pemangku kerajaan, termasuk Sultan Ternate Jou Hidayat Mudaffar Sjah.

Foto bersama Sultan Ternate tidak boleh ditafsirkan sebagai pengangkatan atau pengesahan gelar. Nilai pentingnya terletak pada rekam jejak Abo’ Jecky sebagai orang yang telah dipercaya membawa nama keturunan Raja Manoppo sebelum disahkan oleh Laskar Bogani Indonesia.

Perjalanannya dapat dibaca secara berurutan: berasal dari garis keturunan Raja Manoppo, menerima mandat keluarga, menjalankan fungsi representasi dalam forum MATRA, membangun hubungan dengan lingkungan adat Nusantara, lalu disahkan sebagai Datu Bolaang Mongondow oleh Laskar Bogani Indonesia.

Dalam pengertian itulah Abo’ Jecky dapat disebut sebagai Datu Pinoabat. Dalam bahasa Mongondow, *pinoabat* berarti diberikan tanpa diminta. Gelar tersebut tidak berawal dari pernyataan sepihak, melainkan dari kepercayaan yang lebih dahulu tumbuh di lingkungan keluarga.

*LBI Membuka Pintu*

Laskar Bogani Indonesia patut diapresiasi karena berani membuka kembali pembicaraan mengenai kedudukan Datu dalam kehidupan masyarakat Bolaang Mongondow. Langkah tersebut menghadirkan kembali satu simbol kebudayaan yang lama tidak mempunyai ruang jelas.

Namun, kehadiran Datu tidak boleh berhenti sebagai milik satu keluarga atau satu organisasi. Datu Bolaang Mongondow harus mampu berdiri sebagai penghubung berbagai keluarga, wilayah, organisasi adat, dan kelompok masyarakat.

LBI telah membuka pintu. Selanjutnya diperlukan keterlibatan yang lebih luas agar kedudukan Datu tidak hanya kuat secara simbolis, tetapi juga diterima melalui kerja nyata.

Datu tidak harus menunggu semua pihak sepakat untuk mulai bekerja. Akan tetapi, ia tetap perlu membuka ruang musyawarah dan menghindari kesan bahwa adat hanya dikuasai oleh satu kelompok.

*Menyelamatkan Silsilah dan Manuskrip*

Pekerjaan pertama yang dapat dilakukan ialah menghimpun silsilah keluarga kerajaan. Saat ini banyak catatan silsilah masih tersimpan secara pribadi dan belum didigitalisasi. Sebagian hanya diketahui oleh keluarga tertentu, sedangkan sebagian lainnya mulai rusak karena usia.

Silsilah tersebut tidak harus langsung diumumkan seluruhnya kepada masyarakat. Langkah awalnya ialah melakukan penyelamatan, pemindaian, pencatatan asal-usul dokumen, dan penyimpanan salinan digital.

Hal serupa perlu dilakukan terhadap manuskrip, surat keluarga, foto lama, kontrak kerajaan, cerita lisan, dan catatan mengenai para pemangku adat. Jika tidak segera dihimpun, banyak sumber sejarah Bolaang Mongondow dapat hilang bersama wafatnya para penyimpan ingatan.

Datu dapat menjadi penghubung antara keluarga pemilik manuskrip, peneliti, lembaga arsip, dan pemerintah daerah. Pemilik dokumen tetap dihormati, sedangkan kandungan sejarahnya dapat diselamatkan bagi generasi mendatang.

*Merawat Situs, Makam, dan Komalig*

Bolaang Mongondow mempunyai banyak makam raja, makam Bogani, bekas komalig, dan tempat-tempat yang berhubungan dengan perjalanan kerajaan. Sebagian telah dikenal, tetapi belum semuanya terdokumentasi dengan baik.

Kondisi fisik situs juga berbeda-beda. Ada yang terawat oleh keluarga dan masyarakat, tetapi ada pula yang mulai rusak atau tidak mempunyai keterangan sejarah.

Datu bersama organisasi adat dapat mendorong pemetaan situs secara menyeluruh. Setiap lokasi perlu dicatat, difoto, diukur, dihimpun riwayatnya, dan ditentukan langkah perawatannya.

Pekerjaan seperti ini lebih penting daripada memperbanyak seremoni. Sebuah gelar akan dihormati apabila kehadirannya mampu menyelamatkan jejak sejarah yang hampir hilang.

*Mendekatkan Adat kepada Generasi Muda*

Adat tidak akan bertahan apabila hanya dibicarakan oleh orang-orang tua. Generasi muda perlu diperkenalkan pada bahasa Mongondow, sejarah kerajaan, musik tradisional, pakaian, tata upacara, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Datu dapat mendorong kelas sejarah lokal, pameran arsip, kunjungan ke situs, lomba penulisan, pertunjukan musik tradisional, serta produksi konten digital yang menarik bagi anak muda.

Forum adat juga harus terbuka terhadap penelitian dan koreksi. Sejarah tidak boleh diperlakukan sebagai cerita yang tidak boleh diperiksa. Justru penghormatan kepada leluhur harus diwujudkan dengan keberanian membedakan dokumen, tradisi lisan, interpretasi, dan dugaan.

*Bakid sebagai Penyempurnaan*

Apabila pada masa mendatang keluarga keturunan raja dan para pemangku adat ingin melaksanakan prosesi bakid, gagasan tersebut patut disambut baik.

Bakid dapat menjadi sarana memperluas penerimaan terhadap Abo’ Jecky. Prosesi itu dapat didahului musyawarah, pembacaan silsilah, penegasan mandat keluarga, dan penetapan tanggung jawab Datu.

Pelaksanaan bakid tidak perlu diarahkan untuk membatalkan pengesahan Laskar Bogani Indonesia. Ia dapat ditempatkan sebagai penyempurnaan adat dan penguatan penerimaan dari lingkungan yang lebih luas.

Hal terpenting ialah menghindari munculnya pengangkatan tandingan yang hanya akan memecah keluarga dan masyarakat. Perbedaan pandangan sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah, bukan melalui perebutan gelar.

*Kehormatan yang Harus Dibuktikan*

Dukungan kepada Abo’ Jecky sebaiknya disertai harapan yang jelas. Kita mendukung gelarnya, tetapi kita juga menunggu karya dan pengabdiannya.

Kehormatan seorang Datu pada masa sekarang tidak ditentukan oleh tingginya penutup kepala atau banyaknya undangan dalam forum kerajaan. Kehormatannya akan tumbuh dari jumlah manuskrip yang diselamatkan, situs yang dirawat, bahasa yang diwariskan, dan anak muda yang kembali mengenal sejarahnya.

Pengesahan oleh Laskar Bogani Indonesia merupakan permulaan. Mandat keluarga dan pengalaman dalam forum MATRA menjadi modal penting. Selanjutnya, Abo’ Jecky perlu membuktikan bahwa sebutan Datu Pinoabat benar-benar membawa manfaat bagi adat dan kebudayaan Bolaang Mongondow.

Kita mendukung yang telah ada. Kita juga membuka ruang bagi penyempurnaan. Sebab Datu tidak hadir untuk menghidupkan kembali kekuasaan masa lalu, melainkan untuk memastikan warisan masa lalu tetap hidup pada masa depan.(Tim)

Komentar Facebook
Bagikan

Berita Lainnya

PERINGATI HUT KE-67 PASUKAN PELOPOR, KAPOLRES BOLTIM APRESIASI TOTAL DEDIKASI BRIMOB.###

Wartawan :Alamsyah MOROPOTNEWS.COM.(14/9).Korps Pasukan Pelopor Brigade Mobil (Brimob) Polri kini memasuki usia ke-67 tahun. Menyambut …