Penobatan DATOE In Bolaang Mongondow yang Khidmat dan Refleksi dari Pelantikan DPW LBI Bolmong yang meriah.###

*BMR, Wilayah yang Terlalu Lama Melupakan Jati Dirinya*

Oleh : Mohammad Julianto

MOROPOTNEWS.COM.(19/7). Di berbagai daerah di Republik kita tercinta ini, sering diduga kebangkitan dimulai dari pembangunan jalan, pelabuhan atau kawasan industri. Namun, sejarah menunjukkan hal berbeda, kebangkitan sebuah bangsa justru berawal dari satu hal yang lebih mendasar yaitu *”kesadaran akan identitasnya sendiri”*.

Inilah nampaknya, momentum yang sedang dihadapi Bolaang Mongondow Raya (BMR). Sebab, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, tanah ini telah melahirkan peradaban. Kerajaan – kerajaan di Bolaang Mongondow telah membangun tata pemerintahan, hukum adat, budaya dan nilai – nilai kehidupan yang menjadi fondasi masyarakat hingga hari ini. Meskipun demikian, ketika Indonesia merdeka, para pemimpin kerajaan memilih melebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka tidak mempertahankan kekuasaan, melainkan mengutamakan persatuan bangsa, inilah bentuk keluhuran pekerti dan tingginya Budaya BMR.

Namun, seiring perjalanan waktu, ada satu hal yang perlahan memudar yaitu ingatan kolektif terhadap akar sejarah sendiri. Akibatnya, generasi muda mengenal budaya luar lebih baik daripada sejarah tanah kelahirannya. Kita bangga memakai identitas global, tetapi mulai lupa kepada identitas lokal yang membentuk karakter masyarakat BMR.

Di sinilah makna khidmatnya penobatan Datoe ditengah meriahnya nuansa Pelantikan Utatku Fajri Buhohang, SE. sebagai Ketua & Pengurus DPW LBI BOLMONG, peristiwa ini harus dipahami dengan pikiran yang jernih, saat Dewan Pimpinan Pusat Laskar Bogani Indonesia (LBI) melakukan penobatan Datoe, elite tidak perlu melihatnya sebagai upaya menghidupkan kembali kerajaan atau membentuk kekuasaan baru. Yang sedang dibangkitkan bukan sistem monarki, melainkan *kesadaran kolektif budaya*.

*Datoe bukan Simbol Kekuasaan.*

Datoe adalah simbol ingatan. Ingatan bahwa BMR pernah memiliki peradaban besar. Ingatan bahwa leluhur membangun daerah ini dengan persatuan, keberanian dan kehormatan. Ingatan bahwa kemajuan ekonomi tidak akan pernah kuat apabila tercerabut dari akar budayanya.

Hari ini, banyak daerah di dunia justru maju karena mampu menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi. Jepang mempertahankan tradisinya di tengah kemajuan teknologi. Korea Selatan mengubah budaya menjadi industri bernilai miliaran dolar. Yogyakarta, Bali dan berbagai daerah lain di Indonesia membuktikan bahwa identitas budaya dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan modern.

*Mengapa BMR tidak bisa melakukan hal yang sama ?*

Bayangkan apabila seluruh situs sejarah kerajaan di BMR dikembangkan menjadi kawasan wisata budaya. Festival adat menjadi agenda tahunan. Bahasa daerah diajarkan kembali kepada generasi muda. Museum kerajaan menjadi pusat pendidikan sejarah. Pelaku UMKM memasarkan kuliner, kerajinan, dan seni tradisional sebagai produk unggulan daerah.

 

Maka budaya tidak lagi hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi berubah menjadi modal pembangunan masa depan. Lebih dari itu, kebangkitan identitas budaya akan memperkuat persatuan seluruh masyarakat Bolaang Mongondow Raya. Di tengah berbagai perbedaan administratif antarkabupaten dan kota, sejarah tetap menjadi titik temu yang menyatukan.

Karena itu, penobatan Datoe yang dilakukan secara terbuka ini, dapat menjadi peristiwa sebagai tonggak penting bagi kebangkitan budaya BMR.

Satu hal yang harus ditegaskan bahwa tidak ada pertentangan antara adat dan NKRI. Justru para pendiri bangsa membangun Indonesia di atas keberagaman adat dan budaya. Selama adat ditempatkan sebagai kekuatan moral, sosial, dan kebudayaan, ia menjadi bagian dari kekayaan nasional.

Sudah saatnya BMR berhenti hanya menjadi penonton sejarahnya sendiri. Sudah saatnya budaya tidak sekadar dikenang, tetapi dijadikan fondasi pembangunan. Karena daerah yang besar bukan hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, melainkan juga masyarakat yang mengenal sejarahnya, menghormati leluhurnya, dan percaya diri melangkah ke masa depan.

Menghidupkan Datoe bukan berarti menghidupkan kembali kerajaan. Menghidupkan Datoe berarti menghidupkan kembali jiwa Bolaang Mongondow Raya. Sebab daerah yang kehilangan jati dirinya akan sulit menentukan arah masa depannya, sedangkan daerah yang berdiri di atas akar budayanya akan lebih kokoh menghadapi perubahan zaman.(tim)🙏­­

Komentar Facebook
Bagikan

Berita Lainnya

Komisaris PT Bogani Moropot News Tunjuk Pemred dan Redaktur Baru media Online MOROPOTNEWS., Langkah Perkuat Kualitas Jurnalisme.###

Reporter :Budi Tawil MOROPOTNEWS.COM.(19/6).Rapat penetapan pimpinan redaksi baru media daring Moropot News dilangsungkan di Gedung …